Oleh : Afsha An Nisa Fresticia

Permasalahan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pemerkosaan atau perkosa diartikan sebagai “menundukkan dengan kekerasan; memaksa dengan kekerasan; menggagahi; merogol”.1 Dalam hukum pidana, pengertian ‘pemerkosaan’ diatur dalam Pasal 285 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yaitu “memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan”. Dari kedua pengertian tersebut, yang menjadi unsur terpenting dalam pemerkosaan ialah pemaksaan.

Pada dasarnya, hewan tidak dapat memberikan konsen atau persetujuan layaknya manusia. Maka, dari definisi-definisi tersebut dapat dipahami bahwa pemerkosaan terhadap hewan merupakan suatu tindak persetubuhan terhadap hewan, di mana dalam tindakan tersebut hewan tidak mampu untuk menyatakan kehendak atau persetujuan, dan tidak mampu untuk menolak maupun pergi dari situasi tersebut.

Dalam hukum pidana, pemerkosaan didefinisikan sebagai suatu tindakan persetubuhan dengan pemaksaan terhadap wanita. Dengan kata lain, pemerkosaan dalam hukum pidana hanya mencakup tindakan yang dilakukan antar manusia saja.

Dasar Hukum

Pasal 302 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Analisa Hukum

Dalam hukum pidana, pemerkosaan terhadap hewan tidak diatur secara eksplisit. Akan tetapi, tindakan pemerkosaan terhadap hewan dapat tercakup dalam lingkup penganiayaan terhadap hewan dengan memperhatikan Pasal 302 KUHP.

Dalam Pasal 302 KUHP, diatur bahwa:

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah karena melakukan penganiayaan ringan terhadap hewan

1. barang siapa tanpa tujuan yang patut atau secara melampaui batas, dengan sengaja menyakiti atau melukai hewan atau merugikan kesehatannya;

2. barang siapa tanpa tujuan yang patut atau dengan melampaui batas yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu, dengan sengaja tidak memberi makanan yang diperlukan untuk hidup kepada hewan, yang seluruhnya atau sebagian menjadi kepunyaannya dan ada di bawah pengawasannya, atau kepada hewan yang wajib dipeliharanya.

(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan sakit lebih dari seminggu, atau cacat atau menderita luka-luka berat lainnya, atau mati, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, atau pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah, karena penganiayaan hewan.

(3) Jika hewan itu milik yang bersalah, maka hewan itu dapat dirampas.

(4) Percobaan melakukan kejahatan tersebut tidak dipidana.

Menurut R. Soesilo, Menurut R. Soesilo, dalam bukunya yang berjudul Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, untuk dapat disebut sebagai penganiayaan terhadap binatang (sub 1), harus dibuktikan bahwa:

1. Orang itu sengaja menyakiti, melukai, atau merusakkan kesehatan binatang;

2. Perbuatan itu dilakukan tidak dengan maksud yang patut atau melewati batas yang diizinkan.

Kepatutan perbuatan yang dimaksud dilihat dari apakah tindakan tersebut patut, diperkenankan, atau tidak, pembuktiannya adalah sesuai dengan kenyataan dan penilaian hakim. Apakah suatu tindakan mempunyai tujuan yang patut atau tidak atau apakah melampaui batas untuk mencapai tujuan yang diperkenankan, juga dalam praktek hukum banyak diserahkan pada pertimbangan dan kearifan hakim.

Maka, tindak pemerkosaan hewan dapat dipidana oleh adanya Pasal 302 apabila unsur-unsur yang terkandung dalam pasal itu terpenuhi, yaitu terdapat kesengajaan dalam melakukan tindakan tersebut yang tidak disertai oleh alasan yang yang patut.

Kesimpulan

Tindak pemerkosaan terhadap hewan dapat diartikan sebagai tindak persetubuhan terhadap hewan. Dalam hukum pidana, belum terdapat definisi maupun pengaturan yang khusus dan eksplisit mengenai pemerkosaan hewan. Adapun, tindak pemerkosaan terhadap hewan dapat termasuk ke dalam lingkup penganiayaan terhadap hewan sebagaimana diatur dalam Pasal 302 KUHP.

Rekomendasi

Dalam Hukum Pidana, belum terdapat definisi yang jelas mengenai tindak pemerkosaan terhadap hewan. Pemerintah sebaiknya mengambil langkah untuk mengatasi hal tersebut untuk menghindari kekosongan hukum, baik dalam memperluas cakupan definisi penganiayaan terhadap hewan, maupun menambahkan aturan yang secara eksplisit mengatur mengenai tindak pemerkosaan terhadap hewan.

Daftar Pustaka

Letezia Tobing, “Jerat Hukum Bagi ‘Pemerkosa’ Hewan”, Klinik Hukumonline, diakses melalui Ulasan lengkap : Jerat Hukum Bagi ‘Pemerkosa’ Hewan (hukumonline.com)

S.R. Sianturi, Tindak Pidana di KUHP Berikut Uraiannya, (Jakarta : Alumni, 1983).


Oleh Anisah Alviah

Permasalahan

Hewan telah digunakan sebagai subjek uji untuk eksperimen medis dan penyelidikan ilmiah lainnya selama ratusan tahun. Dengan bangkitnya pergerakan penyelamatan hak-hak hewan pada 1970-an dan 1980-an, banyak orang mulai mempertanyakan etika penggunaan makhluk hidup untuk ujian semacam itu. Meskipun pengujian hewan tetap menjadi hal biasa saat ini, dukungan publik untuk praktik semacam itu telah menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang biomedis, hewan sering dijadikan sebagai subjek dalam percobaan. Baik untuk tujuan mengetahui efek dari suatu bahan kimia atau untuk mengetahui efektivitas suatu obat. Banyak industri menggunakan pengujian hewan untuk berbagai produk, termasuk kosmetik, obat-obatan, peralatan rumah tangga, dan pestisida. Hewan yang banyak dijadikan sebagai hewan percobaan adalah hewan rodensia atau hewan pengerat.

Secara biologis, DNA hewan pengerat dengan DNA manusia tidak mirip tetapi demi ilmu pengetahuan dilakukan modifikasi DNA pada hewan agar mirip DNA manusia. Selain hewan rodensia, primata juga digunakan sebagai hewan uji coba, contohnya dalam pengujian obat kanker payudara, karena secara fisiologis primata mirip dengan manusia. Satwa lainnya seperti reptil, katak, ikan, babi, anjing, dan kelinci seringkali dikorbankan sebagai hewan uji coba. Babi digunakan sebagai hewan uji coba dalam pengujian autotransfusi darah sebagai model manusia, sedangkan kelinci sering digunakan untuk pengujian beberapa metode dalam bidan

Oleh Fiolita Berandhini, S.H

Menjaga bumi dari sampah plastik itu tidak hanya untuk manusia dan lingkungan, tetapi juga untuk satwa yang tinggal didalamnya. Teman-teman pasti banyak yang sudah tahu bahwa sampah plastik tidak bisa hancur dalam waktu singkat, butuh waktu yang lamaaaaaaaa sekali, ribuan hingga jutaan tahun.

Di lautan banyak ditemui mikroplastik yang sulit dilihat dengan mata dan satwa di laut alhasil ketika satwa laut ingin berburu makanan, maka termakanlah juga mikroplastik ini dan kemudian ikan-ikan ‘plastik’ yang ditangkap nelayan inilah kemudian dimakan manusia, plastik yang tidak kelihatan inipun berpindah ke organ tubuh manusia tanpa disadari.

Apa saja hL yang DAPATdilakukan supaya ikan dan biota laut lainnya tidak keracunan plastik? dan bagaimana cara menjaga habitat biota laut supaya tidak tercemar sampah plastik?

Banyak sekali hal-hal yang dapat dilakukan, contohnya dalam merawat diri. Untuk menjadi keren dan modis, teman-teman juga tetap bisa melakukannya tanpa harus menyakiti satwa, lingkungan, bumi dan manusia. Bagaimana caranya?

1. Belilah Pakaian di situs jual beli pakaian bekas atau di pasar barang bekas.

Membeli pakaian bekas mengajak setiap orang untuk mengasah skill mix and match yang tinggi, hal tersebut sangat menyenangkan dilakukan. Selain itu, kamu bisa mendapatkan banyak pakaian dengan harga sangat miring bahkan tidak jarang, kamu bisa temui banyak merek terkenal jika kamu jeli dalam memilih.


2. Donasikan pakaian lamamu dan barang lainnya (tentu saja yang layak pakai)

Mendonasikan barang bekas kepada yang membutuhkan akan sangat baik daripada harus membuangnya. Di era digital seperti sekarang ini, tidak jarang dijumpai orang memberikan barang bekasnya secara cuma-cuma atau menjualnya. Jika beruntung, kamu juga bisa bertukar pakaian bekas kepada seseorang di akun sosial mediamu. Hal ini tidak hanya mengurangi pengeluaranmu untuk pergi ke suatu tempat dengan kendaraan umum/pribadi, tapi juga mengurangi emisi gas CO2 dari kendaraanmu.

3. Pilihlah bahan pakaian dari serat alami

Tahukah teman-teman bahwa plastik juga digunakan sebagai bahan pembuatan pakaian? Ya, mereka hadir dengan nama polyester, nylon, acrylic dan polyamide, yang jika dicuci akan melepas plastik mikro ke aliran air yang berakhir di laut kita. Karena itu sebaiknya gunakan bahan berserat alami seperti katun dan linen atau bambu yang ditanam tanpa pestisida kimia.

4. Rawat pakaian agar tahan lama

Setelah memilih pakaian dengan bahan yang baik serta model klasik yang bisa dipakai melewati berbagai musim, kita juga perlu merawatnya. Salah satu caranya adalah dengan mencuci pakaian menggunakan air bersuhu rendah.

5. Upayakan untuk memperbaiki daripada membeli

Modifikasi kemeja lengan panjang lama menjadi lengan pendek atau menjadikan dress lama menjadi blus juga bisa dilakukan saat keinginan beli baju baru mulai muncul. Kalian juga bisa membuat model-model pakaian/celana baru sesuai yang kalian inginkan. Selain lebih hemat, tidak ada jejak karbon maupun kemasan plastik yang bertambah karena pembelian online kita!

6. Lebih teliti dalam membeli produk kecantikan yang tidak menggunakan hewan dalam proses produksi

Banyak perempuan semua menyukai riasan wajah, dan kita semua seharusnya juga sudah mulai memilah-milah produk apa yang tidak menyakiti hewan dalam proses produksinya. Banyak sekali merek riasan wajah yang ditemui dilakukan dengan menguji produknya ke hewan secara kejam semata-mata demi keindahan.

saat ini, lebih banyak merek vegan dan bebas kekejaman untuk membuat banyak perempuan cantik tanpa harus mengorbankan hewan apa pun dalam prosesnya. Membeli produk kecantikan vegan tentu saja membuat anda bebas rasa bersalah, dan bebas kekejaman.

Siapa bilang tidak ada banyak merek riasan wajah yang bebas dari kekejaman hewan dan vegan ?! Teman-teman bisa menemukan banyak merek riasan wajah yang tidak mengandung kekejaman satwa dari yang mulai mahal hingga ramah kantong melalui suatu aplikasi bernama Bunny Free. Dan di era digital ini, mudah sekali melakukan riset tentang apakah merek produk kecantikan yang ingin anda beli mengandung kekejaman satwa.

6. KeringAtan? atau butuh sesuatu untuk mengelap? Hindari menggunakan tisu basah ya!

Teman-teman tahu ga sih kalau tisu basah terbuat dari resin plastik sehigga tidak bisa larut dalam air. Sebaiknya, bawalah kain lap kering dan jika dibutuhkan bisa gunakan lap kain dengan diberikan sedikit air.

7. Ganti Kapas pembersih riasan wajah sekali pakai dengan kapas kain

Beralih ke apa pun yang dapat digunakan kembali merupakan alternatif yang jauh lebih baik untuk lingkungan!

Kapas pembersih riasan wajah sekali pakai ini sangat buruk bagi planet ini! Masalah terbesar dengan kapas berasal dari penggunaan bahan kimia (terutama pestisida), konsumsi air dan penghapusan habitat satwa liar untuk membuka jalan bagi lahan pertanian untuk menanam kapas. Menggunakan kapas ini hanya untuk satu kali penggunaan sangatlah mengerikan ketika Anda memikirkan seberapa besar kerusakan yang ditimbulkannya! Lebih buruk lagi, Kapas pembersih riasan wajah sekali pakai dibungkus dengan plastik sekali pakai.

Untungnya, alternatif Kapas pembersih riasan wajah sekali pakai ini dapat banyak dijumpai di toko online maupun offline, hal ini membantu meminimalkan dampak dari industri kapas. Kapas kain ini dapat digunakan kembali berulang kali, yang membantu mengurangi permintaan kapas serta mengurangi jumlah limbah yang berakhir di tempat pembuangan sampah tanpa harus mengorbankan rutinitas kecantikan Anda.


https://animalsdontspeakindo.wixsite.com/advokatsatwa/post/best-way-to-get-those-20g-protein-into-your-diet [AH1]

Oleh Fiolita Berandhini, S.H

Saat ini mungkin kamu sedang memastikan untuk tidak menambah banyak mil karbon dalam perjalanan ke dan dari tujuan liburan Anda, seperti dengan membuat penerbangan se-ramah lingkungan mungkin, tetapi bagaimana jika kamu menikmati pemandangan baru dan ingin menjelajah sebanyak yang kamu bisa di negara baru?

Pertama, mari kita bahas beberapa alasan untuk bepergian ramah lingkungan. Satu alasan yang jelas adalah bahwa itu lebih baik untuk planet kita. Emisi CO2 dari penerbangan, mobil, dan moda transportasi lainnya berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global. Konsekuensi dari pemanasan global sangat berbahaya. Dari hilangnya keanekaragaman hayati hingga banjir kota-kota besar, ada banyak alasan untuk ingin mencegah hal ini.
Selain meggunakan akomodasi ramah lingkungan, ada banyak cara lain untuk mengurangi dampak perjalananmu terhadap lingkungan. Berikut adalah cara mudah untuk melakukan perjalanan ramah lingkungan :

  1. Kurangi menggunakan Pesawat terbang
    Cara terbaik untuk mengurangi emisi CO2 adalah tidak terbang. Tetapi jikamemang harus terbang, yang terbaik adalah menghindari terbang terlalu banyak jarak pendek berturut-turut. Dari semua cara transportasi yang berbeda, penerbangan jarak pendek menyebabkan polusi paling banyak per kilometer.
    Jadi, hindari persinggahan. Persinggahan hanya akan membuat perjalanan lebih lama, yang berarti lebih banyak kilometer, lebih banyak bahan bakar, dan lebih banyak emisi CO2.
    Cobalah beralih menggunakan kereta api/kapal laut jika anda ingin berlibur. Selain memberikan sensasi berbeda dan lebih menyenangkan karena anda dapat menikmati keindahan alam selama perjalanan, anda juga berkontribusi banyak menyelamatkan lingkungan.
  2. Gunakan kelas ekonomi jika harus bepergian dengan menggunakan pesawatKamu mungkin tidak pernah memikirkannya, tetapi terbang dengan kelas ekonomi sebenarnya lebih baik daripada kelas bisnis. Selebaran kelas bisnis menciptakan jejak karbon yang jauh lebih besar daripada selebaran ekonomi. Pertama-tama, kelas bisnis mengambil banyak ruang fisik, sementara kelas ekonomi membawa lebih banyak orang dan dengan demikian jauh lebih efisien. Kedua, pikirkan apa yang diperlukan untuk menjalankan semua lounge bandara, spa, dan fasilitas mewah. Jumlah air yang digunakan dan jumlah limbah yang mereka hasilkan secara signifikan lebih tinggi daripada kelas ekonomi.
  1. Menebeng
    Menumpang adalah cara bagus untuk berbagi biaya bensin, mengurangi emisi CO2, dan mengenal orang baru. Dan kamu tidak perlu berdiri di sisi jalan dengan selembar karton di tanganmu di tengah hujan, berharap seseorang akan menjemputmu.
  2. Bepergian dengan menggunakan agen perjalanan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan
    Memilih agen perjalanan dan akomodasi ramah lingkungan adalah cara lain untuk memastikan perjalananmu seramah mungkin. Juga perhatikan bahwa meskipun perjalanan berkontribusi terhadap emisi karbon, perjalanan juga dapat memiliki pengaruh positif terhadap kesejahteraan masyarakat setempat.
  3. Naik Bis
    Saat melakukan perjalanan jarak pendek sekitar 350 mil, bus mengeluarkan 60 pon karbondioksida, yang kurang dari kereta api (sekitar 189 pon), mobil hibrida (sekitar 222 pon) dan mobil lain. Jadi, naiklah bus jika kamu ingin berkeliling! Seperti halnya menggunakan pesawat untuk transportasi, pastikan bus tersebut penuh karena bepergian dengan lebih banyak orang akan menurunkan jejak karbon per penumpang.
  4. Kereta-an lebih asik dalam menikmati pemandangan
    Jika pilihannya adalah antara terbang atau naik kereta, pilihlah yang terakhir. Terbang dianggap cara yang paling tidak ramah lingkungan untuk bepergian, jadi cobalah naik kereta. Kereta api dapat memancarkan polusi udara hingga 85 persen lebih sedikit daripada pesawat, sementara menggunakan 70 persen lebih sedikit energi.
  5. Naik mobil, tapi jangan sendirian!
    Hindari bepergian sendirian dengan mobil atau menggunakan kendaraan yang lebih besar. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Science and Technology, melakukan perjalanan 1000 km sendirian dengan mobil besar dapat menghasilkan hingga 250kg karbon dioksida! Di sisi lain, perjalanan kereta api atau bepergian dengan beberapa orang dengan mobil kecil hanya menggunakan 50kg karbondioksida per pelancong.

Ekspor Hewan Ternak Hidup: Perdagangan yang tidak manusiawi dan tidak diperlukan

Ditulis oleh Peter Stevenson, Kepala Penasihat Kebijakan, Compassion in World Farming dalam Jurnal Hukum Kesejahteraan Hewan Musim Panas 2012

Diterjemahkan oleh Elsa Helyani
Diedit oleh Fiolita B

Setiap tahun, jutaan hewan ternak di seluruh dunia ditransportasikan dan menempuh jarak yang sangat jauh ke rumah-rumah potong hewan atau untuk penggemukan lebih lanjut. Perdagangan ini bertanggung jawab atas sebagian besar penderitaan hewan. Dan ini benar-benar hal yang tidak diperlukan.

Compassion in World Farming (Compassion) sependapat dengan Federasi Dokter Hewan Eropa bahwa “Hewan harus dipelihara sedekat mungkin dengan tempat di mana mereka dilahirkan, dan disembelih sedekat mungkin dengan titik produksi”.

Inggris mengekspor sekitar 80.000 domba dan anak sapi pada tahun 2011. Banyak sapi dikirim untuk dibawa ke perusahaan daging sapi global dan domba diekspor ke luar negeri untuk disembelih. Compassion ingin ekspor hewan ternak hidup dari Inggris dihentikan. Kami menentang ekspor anak sapi karena keduanya memberikan dampak negatif dari kesejahteraan anak sapi akibat perjalanan panjang dan sistem pemeliharaan yang sangat buruk di mana anak sapi dapat disimpan di negara tujuan.

Tinjauan literatur ilmiah oleh Dr Claire Weeks menyimpulkan bukti ilmiah menunjukan bahwa sapi muda tidak dapat beradaptasi dengan baik saat berada dalam perjalanan. Dr Weeks menekankan bahwa pengiriman anak sapi harus dihindari jika memungkinkan; terutama karena morbiditas dan kematian tinggi saat transportasi. Beberapa anak sapi Inggris diekspor ke Spanyol dan anak sapi dari Irlandia Utara dikirim ke Spanyol dan Hungaria; ekspor ini memerlukan perjalanan yang sangat panjang.

Setelah sampai di negara tujuan, anak sapi kadang-kadang dipelihara di tempat yang sangat kering dimana mereka diletakkan di suatu tempat beralaskan lantai beton atau lantai bilah tanpa jerami atau alas lainnya. Tindakan tersebut ilegal dilakukan di Inggris karena Undang-undang Inggris mengharuskan disediakannya tempat tidur yang sesuai untuk anak sapi sedangkan tidak ada persyaratan seperti itu dalam hukum Uni Eropa. Kami percaya bahwa salah apabila anak sapi Inggris dibesarkan di luar inggris yang memiliki sistem kesejahteraan satwa yang tidak sesuai/dilarang di Inggris.

Sebagian besar negara di Eropa memiliki rute transportasi hewan jarak jauh yang menyilang. Misalnya, hampir 3 juta babi diekspor setiap tahun dari Belanda dalam perjalanan panjang ke eropa Selatan dan eropa Timur. Sebagian besar yang ditransportasikan adalah anak babi yang akan digemukkan meskipun beberapa dari mereka dikirim ke rumah potong hewan yang jauh. Belanda juga mengimpor sekitar 180.000 anak sapi setiap tahun dari Polandia, Lituania dan Irlandia; perdagangan ini memerlukan perjalanan yang sangat panjang bagi hewan-hewan lemah ini.

Sayangnya, Peraturan Dewan 1/2005 tentang perlindungan hewan mengijinkan perjalanan panjang ini. Peraturan ini menetapkan bahwa jika standar kendaraan tertentu (tidak banyak persyaratannya) terpenuhi, sapi dan domba dapat diangkut selama 28 jam, babi dan kuda selama 24 jam dan hewan yang tidak disapih selama 18 jam, setelah itu mereka harus diturunkan dan diberi makan, air dan setidaknya 24 jam untuk beristirahat. Pola perjalanan dan waktu beristirahat ini dapat diulangi tanpa ada batasan waktu. Kami mendorong Uni Eropa untuk menempatkan batas maksimum 8 jam perjalanan untuk tujuan penyembelihan atau penggemukkan.

Masalah kesejahteraan dan penegakan yang buruk

Hewan di Uni Eropa secara rutin dikemas ke dalam truk yang penuh sesak dan seringkali tidak, atau hanya sedikit diberi makanan, air atau waktu beristirahat. Ketika dalam perjalanan, hewan-hewan menjadi semakin kelelahan, dehidrasi dan stres. Beberapa terluka. Banyak perjalanan berlangsung di musim panas yang ekstrim, hewan-hewan berada di truk yang sangat penuh dengan ventilasi yang tidak memadai. Ditambah lagi dengan kurang disediakannya air dan lamanya perjalanan, hal ini menyebabkan penderitaan yang sangat hebat. Bahkan kasus terburuknya, banyak hewan mati.

Laporan dari Kantor Komisi Pangan dan Veteriner Eropa menunjukkan bahwa banyak perusahaan yang mentransportasikan satwa mengabaikan prinsip aturan dasar dan banyak Negara anggota yang gagal melaksanakannya dengan benar. Pelanggaran umum dari Peraturan tersebut meliputi: kegagalan untuk memberi hewan waktu istirahat, kurangnya makanan dan air yang diperlukan berdasarkan undang-undang untuk dilakukannya perjalanan panjang; kelebihan muatan; ruang utama tidak memadai; kurang dalam menyediakan air di kendaraan; penggunaan kendaraan yang gagal memenuhi standar legislatif untuk perjalanan yang harus ditempuh melebihi delapan jam; dan pengangkutan hewan yang sakit atau terluka.

Ekspor hewan ternak hidup dari Uni Eropa ke negara ketiga

Uni Eropa mengekspor sejumlah besar hewan ke negara ketiga. Misalnya, baru-baru ini Uni Eropa mengembangkan perdagangan ekspor hewan hidup secara besar-besaran ke Turki, pada tahun 2011 lebih dari satu juta domba dan sapi diekspor dari Uni Eropa ke Turki.
Subsidi (pengembalian dana ekspor) disediakan pada ekspor sapi dari Uni Eropa ke negara ketiga untuk dikembangbiakkan. Dalam laporan Komisi Eropa dinyatakan bahwa 8,6 juta euro dibayarkan dalam pengembalian dana ekspor untuk sapi hidup pada tahun 2010. Pengembalian dana ini dibayarkan sehubungan dengan ekspor 70.147 sapi. Beberapa hewan ini diangkut dalam perjalanan yang sangat panjang ke Rusia dan Kazakhstan.

Meskipun sering diasumsikan bahwa pemacakan hewan yang ditransportasikan dalam kondisi baik, laporan Komisi Uni Eropa mengungkapkan bahwa beberapa sapi yang dikembangbiakkan dan diekspor dari Uni Eropa mendapatkan pemenuhan kesejahteraan yang sangat buruk dalam perjalanan. Misalnya, beberapa hewan yang melahirkan atau menggugurkan kandungan dalam perjalanan, sisanya dalam kondisi yang terluka parah dan bahkan meninggal. Dalam sejumlah kasus, kondisi transportasi ditemukan tidak memenuhi standar dalam penyediaan makanan dan air. Terdapat masalah pelanggaran prinsip kesejahteraan yang dialami 2.149 sapi. Compassion menganggap apabila uang pajak digunakan untuk mensubsidi perdagangan yang menyebabkan banyak hewan menderita adalah suatu kesalahan.

Ketika hewan-hewan ternak tersebut meninggalkan Uni Eropa, mereka akan dilindungi di beberapa negara oleh Konvensi Eropa untuk ,mendapat Perlindungan Hewan selama perjalanan Internasional. Aturan ini dibuat oleh dewan Eropa yang memiliki keanggotaan yang jauh lebih luas daripada Uni Eropa. Namun, sayangnya beberapa anggota Dewan Eropa di luar Uni Eropa telah menandatangani dan meratifikasi Konvensi.

Ekspor hewan ternak hidup dari Australia dan Amerika Selatan

Setiap tahun, Australia mengekspor lebih dari dua juta domba melalui laut ke Timur Tengah dan lebih dari 500.000 sapi, terutama ke Asia Tenggara tetapi juga ke Timur Tengah. Hewan-hewan sering diangkut dalam kondisi penuh sesak dan dapat dipastikan suhu dan kelembaban tinggi dan ventilasi tidak memadai. Sebagian domba mati dalam perjalanan (kesalahan dalam penggembalaan hewan dengan mengatur pemberian makan dengan makanan pengganti yang disediakan di kapal), menderita berbagai penyakit dan cedera. Tingkat kematiannya kelihatannya sedikit. Banyak domba yang bertahan hidup tetap menderita karena cedera dan penyakit, misalnya infeksi mata dan bahkan kebutaan, serta karena lapar, haus, panas dan kelelahan.

Negara Brasil juga mengekspor sapi ke Timur Tengah dalam perjalanan laut yang memakan waktu sekitar 18 hari. Bencana yang baru-baru ini terjadi terdapat 2000 sapi Brasil mati ketika Kapal Gracia del Mar membawa mereka ke Mesir dan mengalami cuaca buruk.
Investigasi oleh Animals Australia telah berulang kali menunjukkan hewan menjadi sasaran kekejaman masif selama penyembelihan di Timur Tengah dan Asia Tenggara. Hewan-hewan biasanya tidak dilakukan pemingsanan sebelum disembelih. Tenggorokan mereka dipotong saat mereka sepenuhnya sadar dan mereka dibiarkan kehabisan darah sampai mati, sebuah proses yang dalam beberapa kasus dapat memakan waktu beberapa menit. Tetapi hal ini bukan hanya karena tidak dilakukannya teknik pemingsanan melainkan dapat juga disebabkan karena penanganan sebelum penyembelihan yang buruk.

Rekaman film baru menunjukkan sapi di Mesir dipukuli sangat keras di kepala dengan tongkat besar. Dalam banyak kasus dibutuhkan beberapa pukulan sebelum hewan itu kehilangan kesadaran hingga jatuh ke tanah ketika tenggorokannya dipotong. Rekaman lain dari Mesir menunjukkan penyembelihan dengan cara memotong tendon kaki sapi untuk mengendalikan mereka.

Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (dikenal sebagai OIE) telah mengadopsi Pedoman tentang kesejahteraan selama transportasi dan cara penyembelihan. Hal ini dapat memberikan dampak yang baik namun sayangnya diabaikan oleh 178 negara anggota. OIE sampai saat ini telah melakukan setidaknya untuk membujuk anggotanya menerapkan pedomannya. Compassion menyerukan kepada OIE untuk mengambil peran dalam memimpin untuk mendorong dan membantu negara-negara anggota untuk mengimplementasikan pedoman yang sudah dibuat.

Transportasi jarak jauh pada hewan untuk disembelih atau digemukkan sering menyebabkan banya penderitaan. Perdagangan ini harus diakhiri di seluruh dunia. Hewan seharusnya digemukkan di atau dekat peternakan di tempat dimana mereka dilahirkan. Mereka seharusnya disembelih sedekat mungkin dari peternakan dimana mereka dibesarkan sehingga saat menempuh perjalanan jarak jauh, hewan tersebut sudah dalam bentuk daging dan karkas.