May 13, 2026

PKS BRMP dan ADSH Dorong Kolaborasi Peternakan Ayam Berkelanjutan di Bali

Audiensi antara Animals Don’t Speak human (ADSH) dan Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) berlangsung dalam tiga tahapan diskusi, yaitu pada 12 April 2026, 13 April 2026 dan 6 Mei 2026, dengan fokus utama pada kolaborasi kerja sama melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS), penguatan kolaborasi lintas pihak, serta pengembangan sistem peternakan ayam yang lebih humanis, sehat, dan berkelanjutan di Bali.

Penandatanganan PKS dan Penguatan Koordinasi Awal

Pada pertemuan 12 April 2026, proses perkenalan, koordinasi dan pembahasan substansi kerja sama tetap berjalan secara penuh dalam pertemuan tersebut, termasuk pemetaan peran, peluang kolaborasi, serta mekanisme implementasi ke depan.

Dalam diskusi, BRMP menjelaskan bahwa struktur kelembagaan dengan penyuluh bersifat koordinatif. Penyuluh tingkat provinsi berperan mengarahkan ke tingkat kabupaten, sementara penyuluh kabupaten aktif melakukan pendampingan lapangan di sektor pertanian dan peternakan. ADSH memiliki peluang untuk berkoordinasi di kedua level tersebut, terutama dalam kegiatan sosialisasi dan penguatan kapasitas peternak.

Saat ini, BRMP masih memfokuskan program pada sektor pertanian, khususnya padi, sejalan dengan agenda nasional swasembada pangan. Meski demikian, ruang kolaborasi di sektor peternakan tetap terbuka, termasuk untuk inisiatif terkait kesejahteraan hewan dan sistem produksi yang lebih berkelanjutan.

Kolaborasi Akademik dan Arah Peternakan Berkelanjutan

Pertemuan lanjutan pada 13 April 2026 dan 6 Mei 2026 memperluas pembahasan kerja sama antara BRMP dan ADSH dalam rangka memperkuat kolaborasi multipihak untuk mendorong transisi sistem peternakan ayam yang lebih humanis dan berkelanjutan.

Diskusi ini menyoroti arah kebijakan pasca pandemi yang mendorong praktik peternakan lebih sehat, termasuk pengurangan penggunaan antibiotik yang berisiko menimbulkan resistensi antimikroba juga residu pada pangan serta peningkatan kesejahteraan hewan. Sistem kandang konvensional seperti kandang baterai menjadi perhatian karena dikaitkan dengan tingkat stres pada ayam, ketergantungan antibiotik, dan potensi residu pada produk pangan.

Dalam perspektif ini, terjadi pergeseran paradigma dari hewan sebagai alat produksi menjadi makhluk hidup yang perlu diperlakukan secara layak, dengan pendekatan animal welfare sebagai prinsip utama dalam pengelolaan peternakan ayam petelur.

Peran Penyuluh dan Penguatan Edukasi Lapangan

Penyuluh memiliki peran strategis dalam mendukung transformasi sistem peternakan yang lebih sehat, humanis dan berkelanjutan. Sebagai penghubung antara kebijakan, pengetahuan teknis dan praktik lapangan, penting untuk meningkatkan kapasitas penyuluh, terutama di wilayah sentra peternakan seperti Tabanan dan sekitarnya, agar dapat mengedukasi peternak terkait praktik budidaya yang lebih berkelanjutan.

Fokus edukasi mencakup transisi sistem peternakan, pengurangan penggunaan antibiotik, serta penerapan praktik yang lebih ramah hewan dan berkelanjutan.

Potensi Pasar Bali dan Peluang Peternak Lokal

Dalam diskusi juga ditegaskan bahwa Bali memiliki potensi pasar yang besar, khususnya dari sektor pariwisata seperti hotel dan restoran yang mulai membutuhkan produk unggas dengan standar kesejahteraan hewan yang lebih baik.

Saat ini, sebagian besar pasokan ayam sehat di Bali masih berasal dari luar daerah, terutama Jawa termasuk pasokan telur ayam. Kondisi ini membuka peluang bagi peternak lokal untuk mengembangkan produksi ayam sehat dan memenuhi kebutuhan pasar domestik Bali.

Pengembangan ayam lokal seperti ayam KUB dan ayam buras juga dinilai penting sebagai alternatif yang dapat memperkuat ketahanan produksi lokal. Namun, pengembangan ini memerlukan dukungan berupa pembiayaan, pendampingan usaha, serta kajian kelayakan bisnis.

Tantangan Kelembagaan dan Kebutuhan Koordinasi

BRMP juga menyampaikan tantangan kelembagaan, termasuk perubahan struktur organisasi dan keterbatasan sumber daya manusia akibat mutasi dan pensiun. Hal ini berdampak pada kebutuhan penguatan koordinasi internal dan eksternal, termasuk perencanaan kegiatan yang lebih terstruktur dan komunikasi yang lebih awal antar pihak.

Arah Tindak Lanjut Kolaborasi

Sebagai tindak lanjut dari rangkaian diskusi dan pertemuan yang telah dilakukan, para pihak menyepakati beberapa langkah strategi antara lain:

  1. Penguatan koordinasi dengan penyuluh tingkat provinsi dan kabupaten
  2. Penyusunan strategi advokasi dan sosialisasi sistem peternakan berkelanjutan
  3. Pengembangan kolaborasi lanjutan dengan akademisi dan lembaga terkait
Membangun Fondasi Kolaborasi untuk Transformasi Peternakan Ayam yang Lebih Beretika dan Berkelanjutan di Bali

Audiensi ini menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam mendorong transformasi sistem peternakan ayam di Bali menuju arah yang lebih sehat, humanis, dan berkelanjutan. Transformasi tersebut tidak hanya fokus pada peningkatan produktifitas namun juga pada standar kesejahteraan hewan. Dengan dukungan pasar yang kuat dari sektor pariwisata serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, peluang pengembangan peternakan lokal dinilai sangat potensial untuk memberikan dampak ekonomi sekaligus peningkatan kesejahteraan hewan.

SHARE THIS POST

Kebijakan Data Privasi

Kami menghargai privasi Anda. Pelajari bagaimana kami mengumpulkan, menggunakan, dan melindungi data pribadi Anda.